Navigasi

Sunday, 13 April 2014

Biografi Leonardo da Vinci


Leonardo da Vinci (lahir di Vinci, propinsi Firenze, Italia, 15 April 1452 – meninggal di Clos Lucé, Perancis, 2 Mei 1519 pada umur 67 tahun) adalah arsitek, musisi, penulis, pematung, dan pelukis Renaisans Italia. Ia digambarkan sebagai arketipe "manusia renaisans" dan sebagai genius universal.

Leonardo terkenal karena lukisannya yang piawai, seperti Jamuan Terakhir dan Mona Lisa. Ia juga dikenal karena mendesain banyak ciptaan yang mengantisipasi teknologi modern tetapi jarang dibuat semasa hidupnya, sebagai contoh ide-idenya tentang tank dan mobil yang dituangkannya lewat gambar-gambar dwiwarna. Selain itu, ia juga turut memajukan ilmu anatomi, astronomi, dan teknik sipil bahkan kuliner.

Latar belakang
Leonardo merupakan anak dari Ser Piero Da Vinci dan Caterina. Ia memiliki nama lengkap Leonardo di Ser Piero da Vinci yang berarti Leonardo putra Ser Piero dari kota Vinci.

Pada usia belia, Leonardo sudah belajar melukis dengan Andrea del Verrocchio dan mulai melukis di Firenze. Ada kabar mengisahkan Verrochio menyatakan pensiun melukis setelah menyaksikan bahwa lukisan muridnya yang satu ini lebih bagus dari lukisannya sendiri. Selain menjadi pelukis, Leonardo juga sanggup menunjukkan kemampuannya di bidang yang lain.
Pada tahun 1481 Leonardo pindah ke Milan untuk bekerja dengan Adipati (Duke) di sana. Hasil karyanya selama di Milan yang paling termashur adalah Kuda Sforza yang dikerjakannya selama kurang lebih 11 tahun. Namun di situ ia tidak hanya melukis dan membuat patung saja, melainkan juga mengubah jalan-jalan sungai dan membangun kanal-kanal, serta menghibur Duke dengan memainkan lut dan bernyanyi. Lalu ia bekerja untuk Raja Louis XII dari Perancis di Milan dan untuk Paus Leo X di Roma.

Sementara itu ia membantu Raphael dan Michaelangelo dalam merancang katedral Santo Petrus. Dalam hidupnya Leonardo sangat tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia mulai mempelajari burung terbang dan mulai merancang mesin terbang. Pemikirannya itu terdapat dalam buku catatanya sebanyak 7.000 halaman.

Di dalam buku itu juga terdapat sketsa tentang studi tubuh manusia. Pada zaman itu, anatomi tubuh manusia tak lebih dari sekadar kira-kira karena siapapun dilarang keras membedah jenazah. Dengan kenekatannya mencuri-curi kesempatan membedah-bedah tubuh orang mati, di kemudian hari tindakan yang tak lazim di zamannya ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia kedokteran.

Mahakaryanya, Jamuan Terakhir (The Last Supper) pada tahun 1495 sampai tahun 1497 yang dilukis pada dinding biara Santa Maria di Milan, kini telah rusak akibat dimakan waktu. Lukisan terkenal lainnya adalah Mona Lisa yang kini terdapat di musium Louvre Paris.
Sebuah spekulasi yang beredar tentang siapa sesungguhnya Mona Lisa antara lain menyatakan bahwa citra perempuan tersebut merupakan hasil rekaan wajah Da Vinci sendiri. Spekulasi yang lain menyatakan bahwa perempuan tersebut memang pernah ada, seorang istri pedagang.
Leonardo da Vinci wafat di Clos Lucé, Perancis pada tanggal 2 Mei 1519, dan dimakamkan di Kapel St. Hubert di kastel Amboise, Perancis.

Setelah meninggal dunianya, sangat kuat ditengarai bahwa Leonardo pernah memegang peranan sebagai orang terkuat di sebuah organisasi rahasia bernama Priory of Sion yang berlaskarkan Knights Templar. Apakah organisasi rahasia ini? Banyak fakta mengarahkan pada suatu dugaan bahwa Priory of Sion merupakan sebuah organisasi yang menjaga ketat-ketat rahasia sejarah kristiani menurut versi yang berbeda dari kitab Injil yang beredar di masyarakat. Yang dirahasiakan adalah mengenai siapa mesias yang sesungguhnya dan kemungkinan Yesus tidak menjalankan hukum selibat.

Dalam versi yang sempat menimbulkan kontroversi ini diyakini bahwa Mesias yang sesungguhnya adalah Santo Yohanes Pembaptis, hal tersebut tersirat dari kekerapan Da Vinci melukis Sang Santo dalam posisi telunjuk menuding ke atas sebagai simbolisasi 'Putra Allah'.
Versi yang tak kalah mengagetkannya adalah kemungkinan Maria Magdalena si bekas perempuan pelacur diperistri oleh Yesus. Namun semua hal tersebut tidak terbukti kebenarannya, hingga saat ini, sehingga tudingan ini hanya dianggap sebagai langkah untuk memojokkan posisi umat Kristiani.

1)      Seniman
Lukis tidak saja mencerminkan luarnya benda, pendapat Da Vinci: yang dimaksud dengan lukis adalah segala sesuatu yang terkandung di dalamnya, yang dasarnya alami dan tidak dapat dilihat oleh mata telanjang manusia, lalu diekspresikan dalam bentuk gambar.

Menurut Da Vinci, Ilmu pengetahuan dan lukis ada hubungannya, misalnya gambar manusia, dia pernah melakukan sebuah percobaan (membedah mayat agar dapat mengerti anatomi tubuh manusia).

Sehingga dalam lukisannya, dia selalu dengan tepat menangkap gerakan otot di bawah lapisan kulit, maka hasil lukisannya sangat halus, dan cermat, contohnya: sketsa tangannya yang masih tersimpan hingga kini, setiap goresannya sangat indah, goresan penanya juga jelas, hal ini jarang dijumpai pada saat itu. Terutama pada bagian mata dan rambut, tidak saja lembut, juga mengandung suatu daya tarik. Ini menunjukan kematangan, kemampuan lukis tingkat tinggi. Leonardo dikenal sebagai seniman terkemuka yang menghasilkan karya-karya terbaik.

2)      Penemu
Da Vinci tidak saja seorang seniman, juga seorang ilmuwan, tukang mesin, dan penemu. Dalam sketsanya, terdapat gambar rancangan kapal terbang dan mesin penggerak ke atas, juga masih terdapat sketsa 'Cara Terbang Burung'. Semua ini hasil penemuan dari pengamatan cara terbang burung. Kesimpulan dari penelitian ini, dia menemukan hubungan besar kecilnya sayap dengan berat badan manusia. Meskipun tidak karena teori ini manusia bisa terbang, namun dia memberi beberapa petunjuk cara terbang burung.

Dari sketsa penelitian kapal selam bisa terlihat, mula - mula dia tertarik pada arus air. Kemudian dengan serius meneliti ikan - ikan yang berenang melawan arus serta hambatan tekanan arus yang terjadi pada kapal, dan meninggalkan sejumlah lima sketsa mengenai badan kapal, yang besar pengaruhnya pada masa sekarang.

Pada jaman Da Vinci, sudah ada jam waktu, tapi rancangan jam Da Vinci berbeda dan memiliki ciri khas, jam lain kebanyakan menunjukkan jam, menit,dan detik tapi kepunyaan Da Vinci , bagian luar menunjukkan keadaan bulan, seperti bundar, setengah bundar dan lain - lain, bagian kiri atas menunjukkan 'menit', bagian kanan atas menunjukkan 'detik'

3)      Arsitektur
Zaman Renaissance disebut: 'Zaman Keemasan Pembangunan', Da Vinci juga meninggalkan banyak sketsa Arsitek. Dalam rancangan kotanya dicantumkan mengenai terowong air, juga pelebaran jalan, aliran udara dan cahaya sesuai dengan rancangan kota zaman sekarang.

Tahun 1483, kebakaran besar terjadi di Milan dan wabah penyakit di Eropa menyebabkan puluhan ribu orang meninggal, Da Vinci pernah mengusulkan pada Il Moro untuk membangun kembali Milan, kemungkinan karena cara pemikiran melampaui mutu masa itu, juga biaya yang dibutuhkna terlalu banyak, sehingga cita-citanya tak terwujud. Tapi tak henti - hentinya dia mempelajari, menyelidiki dan mendiskusikan teknik pembangunan.

4)      Perpaduan bakat seni dan ilmu
Meskipun Da Vinci adaah ilmuwan yang luar biasa, tapi pada dasarnya, dia masih tetap milik dunia seni. Dia memadukan ilmu dengan seni, dan tidak karena mengejar kebenaranilmu lalu melupakan keindahan.

Saat itu banyak seniman yang menggemari teknik gambar nyata. Orang - orang ini meski bisa dengan tepat menggambar bentuk dari bagian sesuatu, namun melupakan segi keindahan yang utuh. Sehingga memberi kesan rumit. Pada kenyataannya, perkembangan seni di zaman pemulihan budaya, perpaduan antara sifat nyata dan mempertahankan keindahan menyeluruh secara untuh, hanya Da Vinci yang paling menonjol.

Meski sepanjang hidup Da Vinci tak henti - hentinya mengejar kemauan dan tak pernah mengenal puas, sehingga meninggalkan setumpuk sketsa, namun karya yang benar - benar selesai tidaklah banyak, hal ini amat disayangkan bagi sang genius dan bagi dunia.

Pada kenyataannya, seorang ahli matematka sahabatnya, sering menjuluki dia sebagai 'Pelukis,Pemusik';murid Michelangelo, pernah menulis tentang Da Vinci dalam 'Buku Para Pelukis sebagai berikut; Da Vinci pernah menekuni bidang musik. Pada dasarnya dia memiliki hati yang agung. Dan sambil memainkan biola, dia bernyanyi gembira.

Da Vinci pernah membawa alat musik buatannya sendiri, dimainkan di depan Il Moro di Milan. Menurut catatan, alat musik ini terbuat dari perak, bentuknya seperi tulang kepala kuda, suara yang dihasilkan, amat nyaring.


Dari semua dapat diketahui, meskipun tidak ada peninggalan Da Vinci yang berupa catatan lagu not balok tapi keberhasilan dalam musik, juga tidak bisa ditandingi orang biasa.

Sumber : Wikipedia

Biografi Albert Einstein


Albert Einstein (lahir di Ulm, Kerajaan Württemberg, Kerajaan Jerman, 14 Maret 1879 – meninggal di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, 18 April 1955 pada umur 76 tahun) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistika, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotolistrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".

Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan genius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.

Albert Einstein, Tokoh Abad Ini (Person of the Century)
Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Tokoh Abad Ini" oleh majalah Time.
Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.
Rumus Einstein yang paling terkenal adalah E=mc²

Biografi
Masa muda dan universitas
Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.

Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.

Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada isu bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika. Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari München ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.

Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.

Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negara Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.

Kerja dan Gelar Doktor
Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.

Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein dengan Mileva, seorang matematikawan. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.

Pada tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.

Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein pada tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.

Gerakan Brownian
Di artikel pertamanya pada tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.
Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguna, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom itu benar-benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brown.

Kematian
Pada 17 April 1955, Albert Einstein mengalami pendarahan internal yang disebabkan oleh pecahnya suatu aneurisma aorta perut, yang sebelumnya telah dilakukan pembedahan oleh Dr Rudolph Nissen pada tahun 1948. Ia mengambil konsep pidato, ia sedang mempersiapkan untuk penampilan televisi memperingati ulang tahun Negara Israel ketujuh dengan kondisi di rumah sakit, tapi dia tidak hidup cukup lama untuk menyelesaikannya. Einstein menolak operasi, mengatakan: "Saya ingin pergi ketika saya ingin. Hambar untuk memperpanjang hidup artifisial. Saya telah melakukan bagian saya, sekarang saatnya untuk pergi, aku akan melakukannya dengan elegan..." Dia meninggal di Rumah Sakit Princeton, pagi, pada usia 76, setelah terus bekerja sampai mendekati akhir.

Selama autopsi, ahli patologi dari Rumah Sakit Princeton, Thomas Stoltz Harvey, menghapus otak Einstein untuk pengawetan tanpa izin dari keluarganya, dengan harapan bahwa ilmu saraf masa depan akan mampu menemukan apa yang membuat Einstein begitu cerdas. Einstein tetap dikremasi dan abunya tersebar di sebuah lokasi yang dirahasiakan.
Dalam ceramahnya pada peringatan Einstein, fisikawan nuklir, Robert Oppenheimer, meringkas kesan pribadinya tentang Einstein: "Dia hampir seluruhnya tanpa kecanggihan dan sepenuhnya tanpa keduniawian ... Selalu ada bersamanya kemurnian indah sekaligus kekanak-kanakan dan keras kepala mendalam."

Sumber : Wikipedia

Upacara Wor Suku Biak

MEMOHON, MENGUNDANG, DAN MEMINTA PERLINDUNGAN DARI PENGUASA ALAM SEMESTA

Dalam agama tradisional orang Biak, Wor merupakan suatu kewajiban yang harus diselenggarakan oleh setiap keluarga batih/inti mereka. Wor mempunyai dua arti, yaitu sebagai upacara adat (upacara tradisional), sebagai nyanyian adat. Sebagai upacara adat, Wor merupakan upacara untuk memohon, mengundang atau meminta perlindungan dari penguasa alam semesta.

Wor diselenggarakan setiap keluarga batih/inti dengan melibatkan kerabat suami istri yang bertujuan memohon atau meminta kepada penguasa agar melindungi anak-anak mereka yang hidup di dunia. Oleh karena itu, Wor dilakukan dalam lingkaran hidup (life cycle rites) orang Biak, yaitu dilakukan untuk mengiringi pertumbuhan fisik anak dari sejak anak dalam kandungan ibu, lahir, hingga pada masa tua dan kematian.

Wor merupakan suatu upacara yang sangat sakral. Dikatakan sakral karena Wor berhubungan erat dengan kepercayaan tradisional mereka. Dalam Wor mereka selalu berhubungan atau berkomunikasi dengan Manggundi  (penguasa tertinggi) yang mereka sembah. Selain itu, mereka percaya bahwa dalam  penyelenggaraan Wor melibatkan orang hidup dan yang mati, artinya mengikut-sertakan arwah-arwah nenek moyang dan kerabat-kerabat mereka yang telah meninggal dunia.

Hal demikian dapat diketahui dalam ucapan orang tua mereka yang mengemukakan, bahwa  “ngo wor ba ido nari ngo mar”. Ucapan ini mengandung makna yang sangat penting dalam kehidupan orang Biak, karena wor mempunyai hubungan erat dengan objek-objek yang mereka sembah, seperti Manggundi, karwar (arwah-arwah), roh-roh halus lainnya, serta sesama kerabatnya yang dianggap masih hidup dalam alam tidak nyata.
Wor menjadi suatu kewajiban bagi setiap keluarga batih/inti orang Biak sehingga apabila tidak dilakukannya, akan mengakibatkan ketidakstabilan dalam kehidupan keluarga mereka, yaitu akan mendatangkan gangguan atau penyakit bagi keluarga yang lalai melakukannya. Selain itu, Wor orang Biak mempunyai beberapa fungsi:
  1. merupakan suatu sarana untuk mendekatkan diri kepada penguasa/Manggundi
  2. sarana untuk mengatasi krisis
  3. sarana untuk pengendalian sosial
  4. sarana untuk mempererat hubungan sosial antara kerabat yang sudah ada
  5. mengikat solidaritas dalam kelompok dalam hal memupuk rasa kebersamaan hidup kelompok orang Biak.
Wor dalam lingkaran hidup Orang Biak, terdiri atas 17 jenis yang dibagi dua; (a) 12 Wor siklus hidup; dan (b) lima Wor insidental. Terdapat beberapa tahap dalam penyelenggaraan Wor. Pertama, Wor dilakukan pada masa (fafisu) Awow (janin). Pada masa ini, orang tuanya melakukannya

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Wor lingkaran hidup orang Biak terdiri atas tiga kegiatan, yaitu Fanfan (memberi makanan) dan Munsasu (membayar kembali), Ararem (mas kawin), Tari dan Nyanyi. Kegiatan Fanfan dan munsasu merupakan suatu kegiatan yang tidak bisa lepas dari Wor terutama wor siklus/daur hidup. Kegiatan ini sangat menentukan wibawa atau status seseorang atau  keret (klen) dalam suatu kelompok komunitas. Fafan adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh pihak keluarga dan kerabat suami terhadap pihak keluarga dan kerabat isteri dalam proses Wor, yaitu keluarga suami dan kerabatnya memberi bahan makanan kepada keluarga dan kerabat istri berupa sagu tuman, umbi-umbian hasil kebun, dan hasil penangkapan ikan sebelum upacara diselenggarakannya Wor.  

Munsasu adalah kegiatan yang dilakukan oleh keluarga dan kerabat istri untuk membayar bahan-bahan makanan yang telah diterima sebelum penyelenggaraan Wor. Munsasu dilakukan pada saat upacara puncak dilakukan. Alat bayarnya menggunakan samfar (gelang terbuat dari siput/kerang), sarak (gelang terbuat dari perak), dan ben (piring porselin cina). Pada kegiatan Fanfan dan munsasu terlihat apa yang dikemukakan oleh Malinowski dan Marcel Mauss pada masyarakat Melanesia di Trobian, Samoa, dan Fiji, yaitu tentang resiprositas atau sistem tukar-menukar pemberian yang melibatkan kelompok-kelompok dan masyarakat-masyarakat yang bersangkutan secara keseluruhan.

Ararem adalah harta maskawin yang harus diberikan oleh pihak calon suami kepada pihak calon istri sebelum Wor farbakbuk (upacara kawin) diselenggrakan. Kegiatan pemberian maskawin ini merupakan suatu kegiatan yang melibatkan semua kerabat dari calon suami, dan sebaliknya mereka (keret/kerabat calon istri) yang menerima mas kawin juga memperhatikan secara baik siapa yang berhak menerima mas kawin.

Menurut keyakinan mereka, apabila ada anggota keluarga yang lalai dalam memperhatikan kewajiban-kewajiban tersebut, anggota keluarga tersebut akan mendapat sanksi dari Manggundi dan arwah-arwah nenek moyang mereka. Selain itu, karena harta maskawin adalah pengganti seorang wanita, maka posisi letak harta maskawin secara tradisonal merupakan simbol dari seorang wanita.

Tari dan Nyanyi, merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari Wor, karena tari dan nyanyi dalam wor merupakan media penyampaian maksud dan tujuan dari Wor yang bersifat relegius itu. Misalnya syair dari nanyian adat (wor) berisi permohonan atau ucapan syukur kepada Manggundi dan arwah-arwah nenek moyang. Selain itu, tari dan nyanyi juga menunjukkan kehebatan suatu keluarga batih atau suatu keret (klen).

Keramaian dan suguhan-suguhan berupa makanan dan hiburan-hiburan pada pelaksanaan wor sangat menentukan status seseorang, suatu keluarga batih atau suatu keret dalam kelompok komunitas.

Upacara Pembuatan Perahu Tradisional di Sulawesi Selatan

Dalam pembuatan perahu tradisional di Sulawesi Selatan, terdapat beberapa upacara yang dilaksanakan untuk kelancaran serta keberhasilan proses pembuatannya. Upacara pertama adalah upacara penebangan kayu setelah dilakukan pencarian bahan. Kayu yang menjadi bahan utama antara lain kayu jati, kayu besi, kayu bayan, dan kayu suryan. Upacara ini dimaksudkan agar kekuatan-kekuatan supranatural di alam atau di pohon tidak mengganggu pekerja dan diharapkan agar proses pengerjaannya berjalan lancar serta berhasil.

Proses pembuatan dilanjutkan dengan pelaksanaan upacara Annattara. Upacara tersebut dilakukan pada saat akan dilakukan pemotongan ujung lunas untuk disambung dengan sambungan kayu lainnya. Dalam upacara annattara biasanya dipergunakan sesaji dan sarana-sarana lainnya. Sesaji biasanya terdiri dari pedupaan untuk membakar kemenyan, ayam, satu sisir pisang panjang, dan kain putih.

 Upacara Annatara dalam Pembuatan Perahu di Sulawesi Selatan

Pelaksanaan upacara yang ketiga adalah upacara Appasiki. Upacara ini bertujuan tolak bala, yakni untuk menolak bahaya yang mengancam. Sesaji dan sarana upacaranya antara lain berupa kue-kue tradisional seperti jajanan pasar di Jawa. Dalam upacara Appasiki dilakukan pembacaan doa-doa yang dilaksanakan di atas perahu (Seperti pembacaan barasanji). Seorang guru akan memimpin dengan membacakan mantera sebagai penolak bala.

Upacara yang keempat disebut dengan upacara Ammasi yang dilakukan menjelang proses pembuatan perahu selesai. Upacara ini dapat diidentikkan dengan upacara pemotongan puser bayi. Upacara dilakukan dengan memberikan pusat pada bagia pusat (kalebisaeng). Sesaji yang digunakan dalam upacara Ammasi adalah pisang, kelapa, ayam, gula merah, dan lainnya. Adapun upacara terakhir adalah upacara peluncuran yang dilakukan pada saat peluncuran perahu pertama kali di laut. Sesaji yang digunakan antara lain nasi, 1 butir telur, ijuk, aneka jajanan pasar, daun pandan, bunga melati, dan lamingan.

Upacara-upacara tersebut merupakan aktivitas yang tidak terlepas dari pola pikir masyarakat yang sudah berkembang sejak masa prasejarah. Upacara-upacara tersebut juga merupakan suatu usaha pendekatan diri kepada suatu kekuatan yang menguasai alam raya. Dimana masa prasejarah upacara ditujukan kepada berbagai sumber kekuatan diluar jangkauan pemikiran manusia biasa yang  dikenal dengan sebutan “supranatural”. Kekuatan supranatural pada masa prasejarah terdiri dari arwah-arwah nenek moyang, roh-roh binatang, binatang-binatang pelindung dan lainnya.

Pada waktu upacara peluncuran pertama atau yang dikenal dengan upacara Ruwes, pada tiang perahu biasanya diikatkan batang tebu hitam dan pohon pisang yang sedang berbuah. Di dalam perahu yang akan diluncurkan diberi sesaji berupa jajan pasar dan dihiasi dengan berbagai hiasan dari kertas. Setelah kyai membacakan doa, peserta upacara dipersilahkan naik ke atas perahu sesuai daya tampung perahunya. Kemudian perahu tersebut dicoba untuk dilayarkan.


Adanya pelaksanaan upacara perahu tampaknya disebabkan oleh kepercayaan bahwa perjalanan yang melalui laut terasa lebih menakutkan, angker, dan membahayakan. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa untuk meluncurkan perahu harus diadakan upacara yang berintikan pada keselamatan. Bentuk upacara tersebut merupakan suatu tanda terima kasih kepada Tuhan atau Penguasa Laut.

Ugamo Malim

Bangsa suku Batak banyak menganut agama Kristen dan Islam. Tetapi ada sebuah kepercayaan yang dianut sebagai agama asli suku Batak, yakni Parmalim atau disebut juga Ugamo Malim. Ugamo artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan alam spiritual (ngolu partondion), sementara Malim artinya suci. Dengan demikian, Ugamo Malim adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan alam spritual yang dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip kesucian.

Agama ini tidak mengenal surga dan neraka. Agama ini hanya percaya kepada Debata Mula Jadi Na Bolon sebagai Tuhannya. Hidup dan mati manusia dalam Parmalin berada pada kuasa Debata Mula Jadi Na Bolon. Mereka juga percaya terhadap keberadaan Arwah-arwah leluhur. Namun belum ada ajaran yang pasti pemberian reward atau punisnhment atas perbuatan baik atau jahat, selain mendapat berkat atau dikutuk menjadi miskin dan tidak punya keturunanan.
Orang Batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon. Dia bertempat tinggal di atas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugas dan kedudukanya. Bagi suku Batak yang menganut ajaran Parmalim, Debeta Mula Jadi Na Balon adalah maha pencipta manusia, langit, bumi dan segala isi alam semesta.

Adapun nama Tuhan lain yang sesuai dengan tugas dan kedudukannya tadi, yaitu Siloan Na Balom yang berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa, penganut Parmalim Batak mengenal tiga konsep. Pertama, Tondi yakni jiwa atau roh. Kedua, Sahala yakni jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang. Ketiga, Begu yakni tondinya orang yang sudah mati. Mereka juga percaya atas kekuatan sakti dari jimat yang disebut Tongkal.

Sejak dahulu kala terdapat beberapa kelompok Parmalim. Tetapi kelompok terbesar adalah kelompok Malim yang berpusat di Huta Tinggi, Toba Samosir. Hari Raya utama Parmalim disebut Si Pahasada yang dilaksanakan pada bulan Pertama, serta Si Pahalima yang dilaksanakan pada bulan Kelima dalam Kalender Batak. Upacara ini secara meriah dirayakan di kompleks Parmalim di Huta Tinggi.

Penganut Parmalim yang disebut dengan Umat Ugamo Malim menyembah Debeta Mula Jadi Na Balon. Setiap setahun sekali mereka melakukan ritual keagamaan yang amat sakral, yakni Pamaleaon Bolon Sipaha Lima di Huta Tinggi. Ritual ini dilaksanakan sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta Mula Jadi Na Bolon atas apa yang telah diberikan. Meraka melakukan Upacara Bius dengan persembahan kerbau yang disebut Horbo Santi atau Horbo Bius.


Kepercayaan ini mengharamkan penganutnya memakan babi, anjing, maupun darah. Menyantap makanan dari rumah keluarga yang tengah berduka (meninggal dunia) juga diharamkan. Kepercayaan ini juga mengharuskan penganutnya menyanyi seisi alam, yakni sesama manusia, hewan, dan tumbuhan.

Rumah ibadah Parmalim adalah Bale Pasogit. Tempat ini dianggap oleh mereka sebagai tempat yang suci dan sakral. Bale Pasogit terdiri dari empat bangunan utama yakni Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur)

Terdapat tiga pribadi leluhur di tanah Batak yang dianggap sebagai Malim, yaitu yakni Raja Uti, Simarimbulubosi dan Raja Sisingamangaraja XII. Raja Sisingamangaraja ini dianggap oleh penganut Parmalim sebagai nabi atau rasul Tuhan yang bertugas menyebarkan patik dan ajaran hamalimon dari Mulajadi Nabolon. Raja Sisingamangaraja kala itu menolak kolonialisme Belanda, dan mengajarkan tentang sebuah perjuangan.

Adapun kitab suci yang dimiliki Ugamo Malim adalah Pustaha Habonaron yang berfungsi sebagai pengatur dan tata laku manusia dalam berhubungan dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia. Kitab ini sebagai panutan manusia, juga sebagai nilai dalam menjalankan prinsip-prinsip kesucian. Kitab ini bersendikan pada Mar Patik sebagai bagian dari Si Sia-Sia Ni Habatahon.


Dalam kepercayaan ini, pemimpin agamanya disebut Ihutan Bolon. Sementara penganutnya disebut ras, dan orang yang mewakili penganut dari setiap daerah disebut Ulupunguan. Ihutan bertanggung jawab atas pelaksanaan upacara keagamaan. Dia memimpin doa ritus atau disebut juga dengan tonggo-tonggo dalam upacara keagamaan Parmalim. Dalam sabda Tuham Parmalim pada upacara tersebut, Ihutan menyampaikan bahwa bila manusia ingin berhubungan dengan  penghuni benua atas, harus ada sesaji yang bersih. Begitu pula manusia yang memberikan sesaji itu harus bersih. Sabda atau Tona ini menjadi pedoman bagi pengikut Ugamo Malim.

Tradisi Halaika Nilai-Nilai Dasar Kehidupan Suku Boti

Suku Boti dikenal sebagai suku yang religious. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-hari yang selalu melekat dengan nilai-nilai kepercayaa dan keyakinan mereka yang disebut halaika. Segala aspek kehidupan telah diatur oleh kepercayaan dan keyakinan mereka. Mulai dari kehidupan berkelompok hingga dalam hal pekerjaan.
Misalnya seorang suku Boti harus menghormati alam karena mereka hidup dari alam yang telah dilindungi Uis Pah, roh penjaga bumi. Mereka berpandangan bahwa manusia harus bersahabat dengan alam karena alamlah yang menyediakan makanan dan minuman. Karenanya, pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan, makanan tidak boleh dipanen sebelum waktunya, bahkan rambut mereka pun tidak boleh dicukur. Alat dapur mereka pun terbuta dari bahan alam, misalnya piring, sendok, dan gelas yang mereka pakai pun terbuat dari tempurung kelapa.

Bagi suku Boti, alam merupakan Tuhan yang harus mereka sembah (Uis Pah) karena alam telah memberi mereka kehidupan. Oleh sebab itu, keseimbangan alam harus dijaga dengan baik dan ketat.
Dalam kehidupan sosial misalnya, seorang suku Boti yang mencuri pisang tidak “dihukum”, namun warga sekitar malah menanam pohon pisang di sekitar rumah si pencuri. Hal tersebut dilakukan atas asumsi bahwa yang mencuri pisan tersebut sangat membutuhkan pisang untuk makan.

Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa pandangan hidup orang Boti erat katannya dengan nilai-nilai kepercayaan dan keyakinan mereka (halaika). Tradisi halaika mengagungkan 4 nilai-nilai dasar yang biasanya disebut dengan ha’ kae (empat larangan) sebagai acuan atau rujukan dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat larangan ini merupakan artikulasi dari pandangan hidup suku Boti mengenai tindak-tanduk yang harus mereka lakukan dan bagaimana cara menjadi manusia sebaik-baiknya. Keempat larangan tersebut antara lain:
  1. Kaes mu bak artinya warga halaika dilarang mencuri;
  2. Kais mam paisa artinya warga halaika dilarang berzinah dan merampas istri orang lain;
  3. Kaes teun tua artinya warga halaika dilarang meminum minuman keras/beralkohol;
  4. Kaes heot heo artinya warga halaika dilarang memetik bijol atau biola tradisional khas orang Timor, memetik buah kusambi (kaes hupu sapi), dan memotong bambu (kaes oet o’) bila waktu untuk memanen belum tiba.
Mengasihi sesama manusia atau dalam bahasa dawan (bahasa komunkasi suku Boti) disebut lais manekat menjadi perwujudan dari nilai-nilai halaika dalam kehidupan mereka. Menjaga perbuatan dan tindakan agar tidak menyinggung dan melukai hati orang lain merupakan bentuk kasih sayang mereka. Adapun nilai-nilai yang dianggap baik bagi kaum halaika adalah menjadi penganut halaika yang baik. Ciri-ciri dari seorang penganut halaika yang baik, dan taat adalah:

  1. Berkonde bagi pria dewasa dan menyanggul rambut bagi kaum perempuan;
  2. Memakai soit pada setiap ikatan rambut yang disanggul/dikonde;
  3. Semua pria dewasa memakai selimut berlapis. Lapisan pertama disebut mau pinaf (selendang pembungkus bagian dalam) dan lapisan kedua sebagai selendang luar (mau fafof). Pada kaum perempuan, mengenakan sarung juga dengan dua lapis: lapisan pertama adalah sarung tenunan (tais), dan lapisan kedua berupa selendang kain (lipa);
  4. Selalu membawa saku sirih pinang (alu’ mama untuk laki-laki; oko’ sloi untuk perempuan) ke mana pun bepergian;
  5. Menaati pantangan-pantangan atau larangan sebagai penganut halaika;
  6. Tidak menggunakan alas kaki;
  7. Berbicara dengan sangat sopan. Selalu menghargai orang lain sebagai yang mulia dan patut dihormati;
  8. Harus bisa menenun bagi setiap perempuan dewasa; dan
  9. Khusus perempuan, tidak diijinkan menatap muka lawan jenisnya secara langsung saat berkomunikasi.

Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa semua warga boti sangat sangat setia dengan apa yang telah diperintahkan dan dilarang oleh raja mereka atau kepercayaan mereka. Oleh karena itu, mereka akan selalu menunjukkan sikap dan tindakan yang patuh, taat, dan setia terhadap berbagai ajaran sang raja. Apapun yang menjadi titah raja, pasti diikuti dan dijalankan tanpa membantah.

Ritual Adat Sawah Kluet

UPACARA ADAT DAN BERTANI 

Secara umum upacara-upacara adat yang diselenggrakan oleh petani selama mengerjakan sawah dilakukan pada tahap-tahap tertentu. Misalnya pada saat menjelang turun ke sawah untuk pertama kalinya.

Pada tahap ini masyarakat biasanya menyebutnya Kenduri ule Lhueng atau babah lhueng. Kenduri ini dilaksanakan pada saat air dimasukkan ke dalam alur yang akan mengairi sawah. Pada saat kenduri ule lhueng dilakukan pemotongan kerbau. Tempat kenduri biasanya dekat mulut alur.

Sesudah padi ditanam di daerah adat istiadat Kluet, dilangsungkan keunduri kanji pada saat pai berumur 1-2 bulan, yaitu dengan membawa bubur ke sawah. Mengantar bubur ke sawah dengan upacara tertentu yang dipimpin oleh kejurun belang.

Menjelang bunting atau dara atau padi berisi, diadakan kenduri sawah. Sedangkan untuk di daerah lainnya berbeda-beda dalam penyebutannya. Misalnya di Aceh besar biasa disebut keunduri geuba geuco di tempat kuburan yang dianggap kramat, di daerah Aceh Pidie diselenggarakan keunduri dara pade. Di daerah Aceh Utara diselenggarakan keunduri adam.

Sesudah memotong atau menuai, dilakukan keunduri pade baro. Keunduri ini dilaksanakan secara sederhana oleh masing-masing petani di rumah mereka untuk mengambil berkah. Boleh dikatakan di antara sekalian keunduri-keunduri di atas keunduri permulaan persawahanlah yang dilakukan secara besar-besaran. Dalam rangka memulai bermacam-macam pekerjaan di sawah, ada upacara-upacara besar atau sederhana. Mulai dari menabur bibit, menanam atau munomang, meletakan ikatan-ikatan padi atau raden, ke dalam beunehenatau seladang (pondok penyimpanan raden), memisahkan gabah yang bernas dengan hampa. Munaring, menumbuk padi sempai kepada memasa pertama kali padi baru itu.


Suku Kluet pemeluk agama Islam yang teguh, bukan berarti upacara ini dipersembahkan untuk dewa-dewa, melainkan perwujudan rasa syukur dan doa kepada Tuhan, disamping merupakan bagian dari tradisi yang mengakar sejak turun-temurun. Bagi para petani yang melakukan ritual tersebut keberkahan menjadi tujuan utama dari upacara-upacara tersebut.

Pepatah Dan Simbol Sebagai Religiusitas Suku Banjar

Masyarakat Banjar akan pandangan hidup mereka masih mempercayai pepetah dan simbol-sombol yang mereka gunakan. Pepatah itu juga masih hidip masih sampai sekarang. Dalam percakapan sehari-hari dikeluarkan. Akan tetapi ingin menggolongkan pepatah yang berhubungan dengan kepercayaan, yang berhubungan dengan upacara adat. Kehidupan sehari-hari, maka akan ditemui kesukaran. Namun tidak ditemui pepatah-pepatah khusus digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Di samping pepatah banyak juga dijumpai kalimat-kalimat uangkapan yang sangat mirip deng pepatah. Sejenis ungkapan itu adalah semboyan-semboyan yang sangat sering digunakan baik oleh masyarakat luas untuk ungkapan sehari-hari maupun oleh pejabat pemerintah untuk pembicaraan-pembicaraan resmi atau pidato.

Contoh ungkapan seperti dimaksudkan di atas aalah seperti berikut:

Dalas balangsar dada= sanggup mengambil resiko berjalan dengan dada. Kalimat ini adalah ungkapan keuletan, kekerasan kemauan guna mencapai sesuatu yang dimaksud. Berikut ini diterakan pepatah-pepatah serta ungkapan dan semboyan-semboyan ini dituliskan dalam bahsa Banjar.

Akal mamilanduk. Akal seperti pelanduk (kancil). Membuat alasan-alasan licik untuk menghindari pekerjaan.

Mengaji mulai di alif. Bekerja dengan rajin dan gigih sepanjang hari untuk mendapatkan rezeki.

Turun ayam naik ayam. Bekerja dengan rajin dan gigih sepanjang hari untuk mendapatkan rezeki.

Kaya bagung jadi raja, baras dihamplas. Sperti bagong jadi aja, beras diempelas. Maksudnya orang yang tidak pada tempatnya jadi pimpinan, mau menyuruhkerjakan yang tidak pada tempatnya.

Umbah handak bahira hanyar mencari luang. Setelah mau berak baru mencari lobang. Dikiaskan pada sesuatu pekerjaan yang tidak disiapkan sebelumnya.

Sandu-sandu (ambak-ambak) bakut, amun maluncat limpua hampang. Jinak-jinak bakut (bakut sejenis ikan gabus), kalau melompat lewat empang. Maksudnya dikiaskan kepada sesuatu pekerjaan kepada orang yang tampak alim tapi kalau mengerjakan sesuatu maksiat berlebihan.

Tuklak bamutur, bulak bajalan. Pergi naik mobil, kembali berjlan. Sesuatu pekerjaan yang awalnya mudah tetapi kemudian sulit.

Selain yang dicontohkan pepatah di atas, masih banyak lagi pepetah-pepatah tergantung pandangan hidup, religi atau mitos yang terdapat di suku Banjar. Namun masyarakat Banjar masih juga mengenal dengan adanya simbol atau tanda-tanda yang berhubungan dengan kepercayaan atau upacara adat. Simbol ini berupa tanda yang diukirkan, dilukiskan dan juga tanda yang diubentuk, jadi trimatra.

Simbol-simbol yang berhubungan dengan keprcayaan. Yang sangat umum dipakai sebagai simbol ialah cacak burung (cecak burung). Wujud dari tanda ini sangat sederhana. Ada sebuah garis horizontal tadi, persis seperti tanda tambah. Bagian kiri dan kanan dari garis horizontal sama panjang, demikian pula dengan bagian atas dan bawah garis vertikal. Bahkan keempat bagian itu sama panjangnya. Simbol ini dibuat untuk menolak roh jahat, menolak penyakit, meoloak bala dan lainnya.

Simbol ini banyak digunakan untuk kepentingan penjagaan dan pengobatan seperti untuk menjaga makanan. Melihat sombol ini maka ada kemungkinan ada hubungannya dengan dunia bawah dan dunia atas. Cecak dalam kesatuan pohon hayat merupakan lambang dunia bawah, sedangkan burung merupakan lambang dunia atas. Cecak dilambangkan garis horizontal. Garis horizontal berarti pula sifat bertahan sebagai perisa, berfungsi menangkis segala serangan. Burung dilambangkan dengan garis vertikal. Garis vertikal ini dilambangkan aktif, menyerang, mengusir dan memburu. Dari filsafat yang dimilikinya ini maka cecak-burung merupakan alat yang ampuh untuk menangkis, melawan dan menyerang roh jahat.

Simbol yang kedua yang digunakan baik untuk hal yang menyangkut kepercayaan maupun yang menyangkut upacara adat ialah simbol pohon mayat. Orang Dayak Kalimantan Selatan ini menyebutkan langgatan. Orang Dayak percaya bahwa roh nenek moyang, pujut (penguasa hutan) turun mendaki manusia melalui langgtan ini, demikian pula naiknya ke negeri asal roh itu melalui langgatan pula.

Simbol ketiga adalah sindat, yang berguna mengunci sesuatu agar tidak diganggu oleh roh jahat.


Kata-Kata Tabu

Kata tabu masih dikenal terutama oleh masyarakat pedesaan. Kata tabu ini pantang diucapkan. Di Kalimantan Selatan ini pantangan-pantangan, baik berkenaan dengan kata-kata maupun dengan perbuatan yang disebut dengan pamali. Pamali berarti pantangan atau larangan dan yang melanggarnya akan merima akibat. Kata-kata tabu di Kalimantan Selatan dapat digolongkan dengan upacara adat, kehidupan sehari-hari.


Pandangan hidup masyarakat suku Banjar termasuk masih menganut keparcayaan yang sangat kuat. Pengaruh-pengaruh dari orang-orang zaman dulu masih dipakai sebagai warisan. Meskipun tidak dipungkiri teknologi yang masuk dapat mempegaruhi pola pikir suku Banjar.  

Pemanohan

PENINGGALAN KEKUATAN SUKU LAMPUNG JAMAN TUMI

Meski masyarakat suku Lampung pada umumnya adalah penganut Agama Islam yang taat dan konsekuen, namun bekas-bekas kepercayaan dari generasi masa lalu atau jaman Tumi pada Shang Hiang Sakti masih sangat kental. Maka bercampur baurlah  antara Islam dan kepercayaan kepada dewa pencipta alam.

Selain masih percaya pada Shang Hiang Sakti, masyarakat Suku Lampung juga masih memercayai keberadaan makhluk dan hal-hal gaib peninggalan animisme jaman dulu. Seperti adanya mahkluk bernama Putri Muli alias Bidadari, Selang Sri atau Dewi Padi, Saikelom, Saihalus, dan Sekedi. Serta kepercayaan terhadap kekuatan sakti pada benda-benda yang disebut Pemanohan.

Kekuatan pemanohan ini, secara rasio memang tidak mungkin. Tapi kenyataannya memang mempunyai keistimewaan dan kesaktian. Seperti beberapa benda dibawah ini:

Di Walur, ada yang disebut bedang minak. Sebilah pedang yang memiliki kesaktian. Pedang ini akan bergerak-gerak ketika pemakainya dalam bahaya, misal ada macan, ular, atau binatang buas di sekitar pemilik pedang. Atau ia akan melompat langsung dan akan kembali dengan berlumuran darah, itulah sebabnya bedang minak dikenal oleh masyarakat sebagai “Pedang Luncat”

Di Tanjung Sakti, Kec. Pesisir Utara, Lampung Utara terdapat juga benda sakti yang disebut kemasi galung. Sebuah tumbak yang mampu meringankan tubuh orang yang memegangnya. Tetapi tidak sembarang orang bisa mendapati keistimewaan dari kemasi galung atau tombak sakti ini. Karena syarat pemegangnya adalah orang yang sejurai dengan pemilik sebelumnya. Kemasi galung disimpan di bubungan rumah penyeimbang, bila ada bahaya di kampung itu, orang yang mengambil kemasi galung bisa langsung melompat dari atap rumah panggung ke bawah tanpa harus menuruni tangga.

Di kampung Ujung Tenuk, Umbul “KO” di Manggala Lampung Utara, ada sebuah batu yang dinamakan pangaringan. Menurut cerita, batu pangaringan berasal dari hati manusia jaman dulu. Kekuatannya adalah mampu melemahkan kesaktian orang yang kebal senjata tajam. Kekebalan seseorang terhadap senjata tajam akan hilang atau tidak kebal lagi terhadap senjata tajam yang telah digilirkan pada pangaringan.

Berikutnya adalah benda sakti bernama batu ilahan yang terletak di Kalianda Lampung Selatan. Batu ini memiliki kesaktian untuk menghapuskan atau mengobati penyakit eksim yang timbul karena melanggar pantangan memakan daging kerbau putih atau bule. Bila telah memakan daging kerbau bule dengan diketahui atau tidak, maka akan timbul eksim yang parah. Satu-satunya obat ialah mengambil air dari atas batu ilahan untuk diminum dan dimandikan.
Lainnya adalah terbangan, sebuah rebana yang pernah dipakai pada abad-abad ke-6. Pada saat itu rebana ini dibunyikan untuk mengiringi perang seperti halnya gendrang perang.

Gema suaranya mampu mengaburkan perhitungan arah musuh, dan rebana ini bisa dinaiki sebagai kendaraan yang bisa terbang. Inilah asal mula rebana disebut juga terbangan. Sekarang terbangan ini disimpan di bumbungan rumah cikal bakal masyarakat Lampung Peminggir, yakni rumah Dalem di Kampung Negeri Ratu di Punggung Tampak.
Selanjutnya adalah Kaor Bungkok yang dikenal juga sebagai Buluh Kebut, atau Buluh Buntu. Kesaktian dari kaor bungkok adalah kemampuannya untuk menawar racun, dan tongkat anti binatang buas. Bila bertemu dengan binatang buas, kaor bungkok bisa digunakan untuk menaklukkan binatang buas tersebut.

Asal usul benda sakti ini berawal dari peristiwa peperangan di Sekala Brak pada masa nenek moyang suku lampung. Saat itu ada jari seorang panglima yang terputus kemudian dimasukkan dalam bambu, lalu dihanyutkan di Way Semaka Kenali. Bambu itu kemudian terdampar dan menjadi tunas, tumbuh dan berumpun seperti lengkuas. Pada waktu-waktu tertentu, akan ada satu batang yang menyala menerangi tempat di sekitarnya, dan batang inilah yang bdisebut sebagai kaor bungkok.

Jika kita perhatikan jenis dan asal benda-benda yang memiliki kesaktian tersebut, kita bisa membaginya menjadi dua macam, yakni; benda sakti hasil cipta karya manusia diantaranya bedang minak, kemasi galung, dan terbangan  dan benda alami yang tersedia pada alam seperti pengaringan, batu ilahan, dan kaor bungkok. Percaya atau tidak, setiap benda memiliki jiwanya tersendiri untuk dipahami dan dikuatkan menurut fungsinya, atau dirasukkan “jiwa” oleh pembuatnya, hal-hal tersebut masih dimiliki dan diyakini di daerahnya masing-masing di Indonesia.


Bagi kehidupan yang rasional dan modern, hal-hal ini tentulah menjadi sesuatu yang tahayul dan misteri. Tapi sesungguhnya ini hanyalah persoalan pengetahuan yang belum terumuskan seperti halnya cara berkomunikasi jarak jauh di jaman dulu dengan teknologi komunikasi saat ini. Perbedaannya terletak pada satu hal: keyakinan.

Pelangegkhan

Masyarakat Lampung mempunyai tradisi yang bernama Pelangekhan yang berarti penyucian diri. Tradisi Pelangekhan ini  sudah berlangsung  turun temurun  tiap tahun di masyarakat Lampung. Salah satu kampung wisata di Bandar Lampung ini menggelar acara pelangegkhan di kali akar,  Sumur Puteri, Telukbetung, Bandar Lampung. Ratusan warga dari berbagai penjuru Lampung mengikuti kegiatan tersebut.

Tradisi ini sebenarnya tidak hanya berupa mandi bersama untuk menyucikan diri, melainkan juga sebagai ajang silaturahmi antarwarga. Biasanya setelah mandi, ada doa dan cuak mengan alias makan bersama. Tradisi Pelangegkhan di Lampung biasanya digelar oleh DPD Lampung Sai (organisasi masyarakat  yang konsen terhadap nilai-nilai kelampungan) dengan melibatkan para pejabat, penggiat budaya, tokoh adat dan masyarakat umum dan dimeriahkan dengan pawai budaya. Layaknya acara tradisi, semua peserta  pelangekhan memakai pakaian adat Lampung.


Acara ini diharapkan dilaksanakan terus menerus dan diharapkan lebih baik lagi. Agenda ini akan kita laksanakan tidak hanya menonjolkan adat budaya Lampung akan tetapi bisa dilaksanakan suku yang ada di Lampung yang bernafaskan Islam. Pelangekhan secara harafiah berarti penyucian diri. Asal katanya adalah Pelangekh yang maknanya mandi untuk menyucikan diri.  Biasanya , tradisi ini berlangsung menjelang bulan Ramadhan. Selain secara massal, warga Lampung kerap melakukan pelangekhan sendiri-sendiri tanpa menunggu bulan puasa. Ini karena banyak juga masyarakat menjalankan kebiasaan turun-menurun tersebut dengan tujuan membuang sial.

Pare No Bongi

KEPERCAYAAN TERHADAP ROH NENEK MOYANG DI SUKU BIMA

Meskipun agama mayoritas masyarakat Bima adalah Islam, tapi ada satu kepercayaan yang masih dianut oleh suku Bima yang disebut dengan Pare No Bongi, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Pare No Bongi merupakan kepercayaan asli orang Bima. Dunia roh yang ditakuti adalah Batara Gangga sebagai dewa yang memiliki kekuatan yang sangat besar sebagai penguasa.

Kemudian ada lagi Batara Guru, Idadari sakti dan Jeneng, roh Bake dan roh Jim yang tinggal di pohon, gunung yang sangat besar dan berkuasa untuk mendatangkan penyakit, bencana, dan lainnya. Mereka juga percaya adanya sebatang pohon besar di Kalate yang dianggap sakti, Murmas tempat para dewa Gunung Rinjani; tempat tinggal para Batara dan dewi-dewi.

Roh-roh nenek moyang di jaman awal disebut Marafu dan tempat kediamannya disebut parafu. Generasi di bawahnya disebut Waro. Dalam kepercayaan suku Bima, selama hidupnya kebutuhan umum dan kontak dengan Tuhan dalam kerajaan roh-roh saling melengkapi. Segala kebutuhan makhluk bumi disanggupi oleh roh-roh itu. Apabila dalam keadaan sakit atau kekurangan hujan, seseorang akan mendatangi perantara dengan penuh harap.
Marafu dan Waro tinggal di batu-batu besar, di gunung-gunung, sedangkan roh orang biasa berada di sekiar kuburannya sendiri, kecuali roh kepala suku. Hal ini karena, dari waktu ke waktu boleh naik ke gunung dimana Tuhan berada.

Orang Bima percaya juga kepada kekuatan gaib yang berada pada binatang-binatang yang dalam ilmu kebudayaan disebut totemisme. Totemisme merupakan kepercayaan asli bangsa Indonesia. Kepercayaan yang sama terdapat di kepulauan Polinesia di Lautan Teduh. Kepercayaan ini pernah menghilang dalam waktu yang cukup lama, sejak agama hindu masuk ke Indonesia. Kemudian muncul kembali pada masa kekuasaan Kerajaan Kediri yang dibuktikan dengan Prasasti Jaring.
Sisa-sisa totemisme dapat dilihat pada:
  1. Pada kedua ujung bubungan rumah dipasang kepala kerbau, kambing atau domba yang masih bertanduk. Pada masa berikutnya, menjelang masuk abad XX hal itu mengalami perubahan evolusi, kemudian diganti dengan kayu yang berbentuk tanduk yang menjulang ke atas. Sekarang bentuk seperti itu menjadi perhiasan dan ciri khas rumah Bima.
  2. Dipergunakan sebagai nama marga (Bima : londo dou) nseperti :
  • Londo dou deke (Bima : deke = tokek)
  • Londo dou duna (Bima : duna = belut)
  • Londo dou gande (Bima : gande = laba-laba)
Tiap marga atau londo dou harus tunduk kepada ketentuan dan peraturan masing-masing marga, yang mempunyai sanksi hukum.
  1. Masih tersimpan dalam cerita rakyat seperti legenda Sang Naga bersisik emas di  Satonda, Jara Manggila, dan lain-lain.Disamping menyembah roh dan kesaktian seseorang atau binatang, orang Bima menyembah beberapa dewa, yaitu :
• Dewa langi : Dewa Langit
• Dewa Oi : Dewa Air
• Dewa Mango : Dewa Kering


Dewa Mango diseru dan disembah bila datang bahasa kekeringan atau kemarau panjang di awal musim hujan. Dewa diseru melalui Marafu dan Waro. Sebagian besar kekuasaan dewa-dewa itu berada pada Dewa Langi yang bersemayam di sebelah atas awan, mungkin di matahari. Untuk pemujaannya mereka harus naik ke gunung (Bima : doro) atau doro Lasi, doro Paha, doro Wadundangga, dan lain-lain.

Hindu Mahayana Agama Suku Tengger

Tengger adalah sebuah kota atau desa yang berada di bawah kaki Gunung Bromo Jawa Timur. Pada awalnya tahun 100 SM orang-orang Hindu Waisya yang beragama Brahma bertempat tinggal di pantai-pantai yang sekarang dinamakan dengan kota Pasuruan dan Probolinggo. Setelah Islam mulai masuk di Jawa pada tahun 1426 SM dan keberadaan mereka mulai terdesak maka mereka mencari daerah yang sulit dijangkau oleh manusia (pendatang) yaitu di daerah pegunungan tengger, pada akhirnya mereka membentuk kelompok yang di kenal sebagai tiang tengger (orang tengger).

Masyarakat Tengger memiliki kepercayaan yaitu Hindu Mahayana. Pada abad ke-16, para pemuja Brahma di Tengger kedatangan pelarian dari orang Hindu Parsi (parsi berasal dari kata Persia, yaitu “wilayah di sekitar negara Iran”). Akhirnya, orang-orang Tengger yang semula beragama Brahma beralih ke agama Parsi, yaitu agama Hindu Parsi (Capt. R. P. Suyono:2009:23). Perpindahan agama orang Tengger dari agama Brahma ke Hindu Parsi ternyata tidak serta merta menghilangkan seluruh kepercayaan awal mereka. Orang Tengger masih tetap melakukan ajaran Buddha. Bahkan kebiasaan ini pada akhirnya dianut juga oleh penganut Hindu Parsi (Capt. R. P. Suyono:2009:25).

Ada tiga prinsip ajaran Hindu masyarakat Tengger antara lain:
  • Pemujaan kepada Tuhan
  • Pemujaan kepada Leluhur
  • Pemujaan kepada alam semesta.
Masyarakat Tengger mempercayai Sang Hyang Agung, roh para leluhur, hukum karma, reinkarnasi, dan moksa. Kepercayaan masyarakat Tengger terhadap roh diwujudkan sebagai danyang (makhluk halus penunggu desa) yang di puja di sebuah punden. Punden biasanya terletak di bawah pohon besar atau dibawah batu besar. Roh leluhur pendiri desa mendapatkan pemujaan yang lebih besar di sanggar pemujaan. Setahun sekali masyarakat suku tengger mengadakan upacara pemujaan roh leluhur di kawah Gunung Bromo yang disebut dengan upacara Kasada. Ajaran agama tersebut di satukan dalam sebuah kitab suci yang ditulis di atas daun lontar yang dikenal dengal nama Primbon. Sesaji dan mantra amat kental pengaruhnya dalam masyarakat suku Tengger. Masyarakat Tengger percaya bahwa mantra-mantra yang mereka pergunakan adalah mantra-mantra putih bukan mantra hitam yang sifatnya merugikan.

Dalam melaksanakan peribadatan, masyarakat Tengger melakukan ibadah di punden, danyang dan poten. Poten adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu. Keberadaan poten ada pada sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandala/zona yaitu:

1. Mandala Utama (Jeroan)

Tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari: padma serupa candi lengkap dengan pepalihan. Fungsi utama padma adalah tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa. Padma tidak beratap dan terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan/batur dan kepala dengan nama sari lengkap dengan Bedawang, Nala, Garuda dan Angsa.
Bedawang Nala melukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor Naga, Garuda dan Angsa posisi terbang di belakang badan padma. Masing-masing hewan tersebut melambangkan keagungan bentuk dan fungsi padmasana. Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

Kori Agung Candi Bentar, bentuknya mirip dengan tugu kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar segi empat atau sisi banyak dengan sisi-sisi sekitar depa alit, depa madya atau depa agung. Tinggi bangunan dapat berkisar dari sebesar atau setinggi tugu sampai sekitar 100 meter memungkinkan pula dibuat lebih tinggi dengan memperhatikan keindahan proporsi candi bentar. Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba pura menuju mandala sisi/nista atau jaba tengah/mandala utama bisa berupa candi gelung atau kori agung dengan berbagai variasi hiasan. Untuk pintu masuk pekarangan pura dari jaba tengah/Mandala Madya ke jeroan Mandala Madya sesuai keindahan proporsi bentuk fungsi dan besarnya atap bertingkat-tingkat tiga sampai sebelas sesuai fungsinya. Untuk pintu masuk yang letaknya pada tembok penyengker/pembatas pekarangan pura.

2. Mandala Madya (Jaba Tengah)

Tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari: Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.

Bale Kentongan, disebut bale kul-kul berada di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara. Bale Bengong atau disebut Pewarengan suci berada diantara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bale Bengong memiliki bentuk bangunan empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

3. Mandala Nista (Jaba Sisi)

Tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung. Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari. Komposisi masa-masa bangunan pura berjajar antara selatan atau selatan-selatan di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan.