Dusun Kebon di Desa Besowo,
Kepung, Kediri, Jawa Timur seakan mati. Tak ada manusia lalu lalang, jangkrik
pun absen berderik. Sepi yang kontras dengan latar alam yang bergejolak. Malam
itu, Kamis 13 Februari 2014, Gunung Kelud baru saja meletus.
Jutaan meter kubik abu bercampur kerikil dan pasir tumpah. Di kejauhan, kilat sambar menyambar di antara kepulan asap dan lelehan lava, dentuman keras mirip suara ledakan tak kunjung berhenti. Mencekam.
Sebuah mobil milik SAR memasuki jalanan dusun, menyorot lampu yang nyaris tak kuasa menembus pekatnya malam. Ada dua orang di dalamnya, Koordinator SAR Kecamatan Kepung, Deddy Kurniawan dan Mbah Wito, anggota Satpol PP Kecamatan Kandangan. Si Mbah jadi penunjuk jalan.
Klakson mobil berkali-kali dibunyikan. Jadi penanda kehadiran. "Ada yang masih di dalam?!" teriak mereka berkali-kali.
Hening. Tak ada sahutan.
Beberapa saat kemudian, terdengar seruan lirih. Dari bibir seorang perempuan. Deddy dan Mbah Wito bergegas turun. Bermodalkan senter yang dibawa dari kantor kecamatan, mereka menembus derasnya abu, mendekati sumber suara. Ke sebuah rumah yang rusak berat dan beratap langit. Bumbungnya bolong.
Belum jauh melangkah. Tiba-tiba muncul sesosok tubuh dengan tangan dan kaki menapak tanah. Merangkak. Dua relawan evakuasi terkesiap saat melihat wajah itu... putih, pucat, penuh kerut, dan berlumuran darah.
Itu sosok seorang nenek. Ia tak kuat lagi berdiri setelah batu hampir sekepalan tangan yang dilontarkan Kelud menghancurkan genteng rumah dan jatuh membentur kepalanya. Perempuan sepuh yang tak sempat terbawa gelombang evakuasi warga yang panik.
"Itu kepala penuh dengan darah. Mukanya sudah pucat, lemas, sungguh kasihan melihatnya," kata Dedy, menceritakan pertemuannya dengan sang nenek kepada Liputan6.com.
Bergegas Dedi dan Mbah Wito segera menghampiri dan memapah tubuh renta itu menuju mobil yang terparkir 10 meter jauhnya. Darah masih mengucur dari kepala korban.
Penyisiran dilanjutkan. Klakson terus dibunyikan, berharap korban lain yang terjebak di rumah mendengarnya. Satu per satu warga muncul, dengan kondisi serupa. Tubuh berbalut debu, pasir, juga darah. Total ada 8 orang, semua lanjut usia, yang dilarikan ke pos kesehatan terdekat di SMP 1 Kepung.
Letusan Kelud malam itu berlangsung cepat dan tak terduga. Hanya selang 1 jam 35 menit setelah ditetapkan jadi Awas, gunung setinggi 1.731 meter itu erupsi. Jeda paling singkat dalam sejarah.
Akibatnya, warga kalang kabut. "Cuma setengah jam dari meletus, batu dan pasir sudah turun. Padahal kami lagi sibuk menyelamatkan diri. Melihat itu warga jadi makin panik," kata salah satu warga kaki Kelud, Sunyoto (27).
Kelud juga membuat seorang kakek bertubuh kurus, bingung. Ia ditemukan sedang berdiri termenung di depan rumahnya di Desa Sugih Waras. Di tengah guyuran abu matanya menatap nanar ke arah Kelud. "Terserah, Pak, dibunuh juga nggak apa-apa. Saya tetap di sini," ujar dia, seperti ditirukan Komandan Regu Brimob Iptu Kristo Tamba.
Kakek itu pernah jadi saksi erupsi Kelud pada 10 Februari 1990. Kala itu letusan berlangsung selama 45 hari, menewaskan 33 warga sekitar.
Tapi, amuk Kelud kali ini lebih besar, lontaran vulkanik mencapai tinggi 17 km, dibanding 8 km di tahun 1990. Sebarannya pun lebih jauh -- meski korban jiwa lebih sedikit, 7 orang.
Abu Menyebar Sampai Jauh
Gunung Kelud atau 'sapu' dalam Bahasa Jawa, kali ini bergerak cepat: meletus dan cepat reda. Meski terbilang singkat, letusan Kelud bikin repot jutaan orang. Faktor lokasi jadi penyebab: ia berada di Jawa, area terpadat di Indonesia, salah satu pulau paling ramai di muka Bumi.
Sekitar 200 ribu orang harus diungsikan, abu menyebar sampai jauh ke Surabaya, Yogyakarta, Solo, juga Bogor, merusak rumah, bikin orang sesak nafas. Lalu lintas darat dan udara terganggu. Tujuh bandara ditutup. Tak cuma di Indonesia, penerbangan dari Australia ke Cocos Islands, Pulau Christmas, dan Phuket, Thailand dibatalkan.
Apa yang membuat abu Kelud sedemikian dahsyat penyebarannya? Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) punya jawabannya.
Ini penjelasan mereka: 1 jam setelah Kelud meletus pada pukul 22.50 WIB, debu terlontar mencapai ketinggian tropopause, atmosfer, pada ketinggian 16 hingga 17 kilometer dari permukaan laut. Berdasarkan pantauan penerima satelit MTSAT-2 Lapan di Bandung, debu vulkanik menyebar dalam arah horisontal dengan radius 100 km.
Tiga jam kemudian, sebaran debu vulkanik melebar ke arah barat dengan radius mencapai sekitar 300 kilometer. Dari hasil analisis data MTSAT-2 dan pemodelan atmosfer yang dikembangkan PSTA Lapan, sebaran debu vulkanik dibawa oleh angin ke arah barat dengan kecepatan 83 km/jam. Pada Jumat 14 Februari 2014 pukul 07.00 WIB debu semburan letusan Gunung Kelud sudah sampai di wilayah Jawa Barat.
Jutaan meter kubik abu bercampur kerikil dan pasir tumpah. Di kejauhan, kilat sambar menyambar di antara kepulan asap dan lelehan lava, dentuman keras mirip suara ledakan tak kunjung berhenti. Mencekam.
Sebuah mobil milik SAR memasuki jalanan dusun, menyorot lampu yang nyaris tak kuasa menembus pekatnya malam. Ada dua orang di dalamnya, Koordinator SAR Kecamatan Kepung, Deddy Kurniawan dan Mbah Wito, anggota Satpol PP Kecamatan Kandangan. Si Mbah jadi penunjuk jalan.
Klakson mobil berkali-kali dibunyikan. Jadi penanda kehadiran. "Ada yang masih di dalam?!" teriak mereka berkali-kali.
Hening. Tak ada sahutan.
Beberapa saat kemudian, terdengar seruan lirih. Dari bibir seorang perempuan. Deddy dan Mbah Wito bergegas turun. Bermodalkan senter yang dibawa dari kantor kecamatan, mereka menembus derasnya abu, mendekati sumber suara. Ke sebuah rumah yang rusak berat dan beratap langit. Bumbungnya bolong.
Belum jauh melangkah. Tiba-tiba muncul sesosok tubuh dengan tangan dan kaki menapak tanah. Merangkak. Dua relawan evakuasi terkesiap saat melihat wajah itu... putih, pucat, penuh kerut, dan berlumuran darah.
Itu sosok seorang nenek. Ia tak kuat lagi berdiri setelah batu hampir sekepalan tangan yang dilontarkan Kelud menghancurkan genteng rumah dan jatuh membentur kepalanya. Perempuan sepuh yang tak sempat terbawa gelombang evakuasi warga yang panik.
"Itu kepala penuh dengan darah. Mukanya sudah pucat, lemas, sungguh kasihan melihatnya," kata Dedy, menceritakan pertemuannya dengan sang nenek kepada Liputan6.com.
Bergegas Dedi dan Mbah Wito segera menghampiri dan memapah tubuh renta itu menuju mobil yang terparkir 10 meter jauhnya. Darah masih mengucur dari kepala korban.
Penyisiran dilanjutkan. Klakson terus dibunyikan, berharap korban lain yang terjebak di rumah mendengarnya. Satu per satu warga muncul, dengan kondisi serupa. Tubuh berbalut debu, pasir, juga darah. Total ada 8 orang, semua lanjut usia, yang dilarikan ke pos kesehatan terdekat di SMP 1 Kepung.
Letusan Kelud malam itu berlangsung cepat dan tak terduga. Hanya selang 1 jam 35 menit setelah ditetapkan jadi Awas, gunung setinggi 1.731 meter itu erupsi. Jeda paling singkat dalam sejarah.
Akibatnya, warga kalang kabut. "Cuma setengah jam dari meletus, batu dan pasir sudah turun. Padahal kami lagi sibuk menyelamatkan diri. Melihat itu warga jadi makin panik," kata salah satu warga kaki Kelud, Sunyoto (27).
Kelud juga membuat seorang kakek bertubuh kurus, bingung. Ia ditemukan sedang berdiri termenung di depan rumahnya di Desa Sugih Waras. Di tengah guyuran abu matanya menatap nanar ke arah Kelud. "Terserah, Pak, dibunuh juga nggak apa-apa. Saya tetap di sini," ujar dia, seperti ditirukan Komandan Regu Brimob Iptu Kristo Tamba.
Kakek itu pernah jadi saksi erupsi Kelud pada 10 Februari 1990. Kala itu letusan berlangsung selama 45 hari, menewaskan 33 warga sekitar.
Tapi, amuk Kelud kali ini lebih besar, lontaran vulkanik mencapai tinggi 17 km, dibanding 8 km di tahun 1990. Sebarannya pun lebih jauh -- meski korban jiwa lebih sedikit, 7 orang.
Abu Menyebar Sampai Jauh
Gunung Kelud atau 'sapu' dalam Bahasa Jawa, kali ini bergerak cepat: meletus dan cepat reda. Meski terbilang singkat, letusan Kelud bikin repot jutaan orang. Faktor lokasi jadi penyebab: ia berada di Jawa, area terpadat di Indonesia, salah satu pulau paling ramai di muka Bumi.
Sekitar 200 ribu orang harus diungsikan, abu menyebar sampai jauh ke Surabaya, Yogyakarta, Solo, juga Bogor, merusak rumah, bikin orang sesak nafas. Lalu lintas darat dan udara terganggu. Tujuh bandara ditutup. Tak cuma di Indonesia, penerbangan dari Australia ke Cocos Islands, Pulau Christmas, dan Phuket, Thailand dibatalkan.
Apa yang membuat abu Kelud sedemikian dahsyat penyebarannya? Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) punya jawabannya.
Ini penjelasan mereka: 1 jam setelah Kelud meletus pada pukul 22.50 WIB, debu terlontar mencapai ketinggian tropopause, atmosfer, pada ketinggian 16 hingga 17 kilometer dari permukaan laut. Berdasarkan pantauan penerima satelit MTSAT-2 Lapan di Bandung, debu vulkanik menyebar dalam arah horisontal dengan radius 100 km.
Tiga jam kemudian, sebaran debu vulkanik melebar ke arah barat dengan radius mencapai sekitar 300 kilometer. Dari hasil analisis data MTSAT-2 dan pemodelan atmosfer yang dikembangkan PSTA Lapan, sebaran debu vulkanik dibawa oleh angin ke arah barat dengan kecepatan 83 km/jam. Pada Jumat 14 Februari 2014 pukul 07.00 WIB debu semburan letusan Gunung Kelud sudah sampai di wilayah Jawa Barat.
"Kami merekam sebelum dan sesudah Gunung Kelud meletus dan juga melalui MTSAT-2 dan pendalaman tim Atmosfer Lapan menginformasikan sebaran debu vulkanik yang dibawa oleh angin ke arah barat," tambah Kabid Produksi Informasi Pusat Pemanfaatan data Lapan Winanto kepada Liputan6.com, Minggu 23 Februari 2014.
Lebih `Mematikan` dari Merapi
Sejarah dunia mencatat 19 Mei 1949 sebagai hari malapetaka terjadi: 19 Mei 1919. Kelud yang meletus, membuat air di danau kawahnya mendidih, menerobos dinding, luber ke bawah hingga menyebar radius 40 kilometer. Lebih dari 5.100 orang di 104 desa-desa kecil di kaki gunung tewas.
![]() |
| (Foto Kelud April 1919) |
![]() |
| (Foto Kelud tahun 1901) |
Meski masih dalam skala yang jauh lebih kecil, letusan Kelud 2014 memicu kekhawatiran masyarakat: gunung berapi yang lain akan mengikuti tingkah Kelud. Apalagi, Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, yang tak jua berhenti menggeliat dari tidur panjangnya selama 400 tahun, baru saja menyudahi nyawa 17 orang pada awal Februari.
Dan pada 5 November 2010, tak sampai 4 tahun lalu, Gunung Merapi di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengamuk, memuntahkan awan panas atau wedus gembel bercampur batu. Setidaknya 277 orang tewas, termasuk sang juru kunci Mbah Maridjan.
Dengan korban nyawa lebih sedikit, sejatinya, letusan Kelud kali ini lebih 'mematikan' dari erupsi Merapi 2010. Itu kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Surono.
"Material yang dimuntahkan Kelud saat erupsi besar pertama pada 13 Februari lalu sama dengan material 1 bulan yang dikeluarkan Gunung Merapi selama letusan pada 2010 silam. Material letusan Kelud mencapai 100-200 juta meter kubik," kata dia kepada Liputan6.com.
Faktor manusia menjadi kunci keselamatan. "Saat ini kalau manusia (warga lereng gunung) bisa diatur, (letusan gunung) tidak mematikan. Tergantung orangnya, mengikuti arahan dan prosedur sesuai status gunung api atau tidak," kata dia.
Kekhawatiran bakal berdenyutnya gunung berapi lain makin menguat setelah tanpa diduga, pada Senin pagi 17 Februari 2014, gempa tiba-tiba mengguncang wilayah Dusun Piji dan Krajan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Saksi mata mengaku melihat kilat menyambar dari arah Gunung Merbabu, disertai suara ledakan keras, dan bumi pun berguncang. Puluhan rumah warga rusak, tembok retak, genteng copot dan berjatuhan. Banyak orang mengira letusan Kelud menular.
Anggapan itu dibantah Surono. "Nggak ada kaitan Merbabu dengan Kelud. Gunung Merbabu masih normal. Dentuman itu bukan dari kegiatan vulkanik. Apalagi, dentuman itu berdasarkan cerita, katanya, katanya..." kata dia.
Dan, Mbah Rono benar. Setidaknya, hingga Minggu malam 23 Februari 2014, belum ada tanda-tanda pergolakan dari Merbabu.
Secara terpisah, Ketua Tim Tanggap Darurat Gunung Kelud dan Penanggung Jawab Gunung Api Jawa Tengah dan Jawa Timur PVMBG Umar Rosadi menegaskan, erupsi Kelud tak akan menjalar ke gunung-gunung lain.
"Nggak ada hubungan sama sekali. Krakatau (Gunung Anak Krakatau) waspada sudah lama (sejak 26 Januari 2012), tidak ada pengaruh dengan Kelud. Masing-masing punya dapur sendiri, punya dapur magma masing-masing."
Ring of Fire Bergolak?
Seperti halnya Sinabung, erupsi Kelud 'terdengar' hingga ke seluruh dunia. Mengingatkan kembali pada sebuah negeri yang bertopang di atas zona tektonik yang sangat aktif, pertemuan tiga lempeng besar dunia -- Pasifik, Australia, dan Eurasia, dan sejumlah lempeng kecil lain. Di Ring of Fire.
Situs sains LiveScience mencatat, Indonesia adalah rumah bagi 129 gunung berapi aktif. Dua yang paling aktif adalah Kelud dan Gunung Merapi di Jawa -- pulau di mana Ibukota Jakarta dan kota-kota utama Indonesia berada. Letusan Merapi dan Kelud bertanggung jawab atas ribuan kematian.
Indonesia juga menjadi lokasi sejumlah gempa terdahsyat dan letusan gunung berapi paling kolosal yang pernah terjadi di muka Bumi: Toba, Tambora, Krakatau. Belum lama ini terlacak, ledakan misterius terjadi pada 1257, abad ke-13, jejak kimiawinya terekam dalam es di Arktik dan Antartika berasal dari Lombok: Gunung Samalas yang kini menyisakan Rinjani.
Letak Indonesia-lah membuatnya mengalami rentetan letusan gunung api. Katherine Cashman, seorang profesor Vulkanologi di Universitas Bristol menerangkan, Bumi terbagi dalam beberapa lempeng, yang semi kaku, tetapi kadang-kadang bergerak dan berinteraksi satu sama lain. "Indonesia dalam posisi tak beruntung, berada di batas lempeng-lempeng besar. Khususnya di bawah Jawa, satu lempeng masuk menujam di bawah lempeng lain, memproduksi lelehan yang kemudian mengejawantah sebagai gunung berapi," kata dia, seperti dikutip dariIndependent.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah letusan 2 gunung, Sinabung dan Kelud, yang terjadi nyaris bersamaan baru-baru ini menjadi indikasi peningkatan aktivitas di Cincin Api Pasifik? Sebelum Kelud meletus, lindu dengan kekuatan 6,2 skala Richter juga mengguncang Kebumen, Jawa Tengah pada 25 Januari 2014 lalu.
Soal dugaan adanya peningkatan aktivitas di Ring of Fire, Dr Colin Macpherson, dari Department of Earth Sciences, Durham University, Inggris berpendapat, tidak.
Dan, belum terbukti secara ilmiah kaitan gunung berapi dengan gempa. "Adalah biasa, melihat banyak gunung api aktif secara bersamaan atau menyaksikan dua letusan besar di Indonesia pada waktu yang sama. Itu bukan hal aneh," kata dia, dikutip dari IB Times.
Dia menambahkan, Kelud meletus delapan atau sembilan kali selama 100 tahun. Pada tahun 2007 letusannya sangat kecil hingga nyaris tak terdeteksi. "Ini adalah kali pertamanya Kelud meletus eksplosif sejak 1990," kata dia.
Macpherson mengatakan tidak ada cara untuk memastikan apakah Kelud akan terus meletus di masa depan. Atau bagaimana pola waktunya. Sebab, data yang dimiliki para ahli sangat singkat, dibandingkan dengan umur gunung itu sendiri yang bisa mencapai ratusan ribu tahun. "Sangat sulit bagi kita untuk menggunakan data yang kita miliki untuk membuat prediksi masa depan."
Dan sampai saat ini belum ada teknologi untuk memprediksi kapan terjadinya letusan gunung api. Kelud, maupun lebih dari 100 gunung api lainnya di Indonesia. Hanya menunggu giliran.
Bencana alam adalah sebuah keniscayaan di negeri subur, gemah ripah loh jinawi (kekayaan alam yang berlimpah) ini. Tak diketahui pasti kapan akan datang. Sinabung, lalu Kelud adalah peringatan dan isyarat dari kekuatan mahadahsyat yang berada di bawah kaki kita berpijak. Bersiap menjadi sebuah keharusan.













