Ada seorang bodoh yang ingin
membeli sepatu, karena menyadari kebodohannya, maka sebelum pergi ke toko,
pertama-tama, di rumah, dia mengukur ukuran kakinya lalu mencatatnya di
selembar kertas.
Sesudah ganti baju, dia segera
keluar rumah, menuju ke toko untuk membeli sepatu yang sudah lama diincarnya.
Namun sayang, saking terburu-buru, dia tidak menyadari bahwa kertas yang berisi
catatan ukuran kakinya tertinggal di rumah.
Sesampai di toko sepatu, setelah
melihat-lihat sebentar, dia lalu tertarik pada sepasang sepatu yang sesuai
dengan keinginan hatinya. Ketika hendak mencoba memakai sepatu tersebut,
tiba-tia dia teringat catatan ukuran kakinya yang tertinggal di rumahnya.
"Saya telah meninggalkan
ukuran kaki saya di rumah, sekarang saya akan pulang ke rumah mengambilnya lalu
saya akan kembali kesini," katanya kepada penjual sepatu.
Begitu selesai berkata, dia
bergegas berlari pulang ke rumah mengambil catatanya. Namun ketika dia tiba
kembali, toko sepatu itu telah tutup, oleh sebab itu dia tidak jadi membeli
sepatu yang tadi telah dipilih.
Keesokkan harinya, dia
menceritakan peristiwa tersebut kepada temannya, yang langsung bertanya
padanya,
"Mengapa pada saat itu engkau tidak mencoba memakai
sepatunya?"
Orang bodoh tersebut menjawab,
"Karena saya lebih percaya kepada ukuran di catatan saya."
Jawaban singkat yang membuat
temannya terbengong memandangnya, bingung memahami keyakinan temannya, antara
benar dan tidak benar, antara sulit dan tidak sulit dilakukan, dalam
menjalankan keyakinannya tersebut.
